×

Mewakili Gubernur Bali, Kaban Kesbangpol Buka Seminar Nasional Puskor Hindunesia ke-23 di Denpasar

Selasa, 12 Mei 2026 pukul 13.37 (22 jam yang lalu) | Oleh AGUS SANTOSO

 

Denpasar – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, Gede Suralaga mewakili Gubernur Bali membuka Seminar Nasional dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-23 Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia), Minggu, 10 Mei 2026. Kegiatan bertema “Menjaga Warisan Peradaban Bali” ini dilaksanakan di Universitas Hindu Indonesia, Jalan Sanga Langit, Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, yang dihadiri oleh akademisi, tokoh agama, pemuka adat, serta peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutan Gubernur Bali yang dibacakan oleh Kaban Kesbangpol, menyampaikan apresiasi atas perjalanan 23 tahun Puskor Hindunesia dalam menjaga eksistensi dan identitas ke-Hindu-an serta ke-Bali-an di tengah tantangan globalisasi. Ditegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan peradaban Bali yang memiliki nilai luhur dan universal.

“Selama 23 tahun, Puskor Hindunesia telah menjadi bagian dari perjalanan menjaga api peradaban. Ini adalah wujud pengabdian dalam memastikan identitas budaya dan spiritual tetap tegak di tengah arus perubahan zaman,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.

Lebih lanjut, Gubernur Bali juga menekankan bahwa tema seminar sejalan dengan visi pembangunan Bali melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yaitu Atma Kerthi, Jana Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Segara Kerthi, dan Jagat Kerthi. seminar ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif, baik secara spiritual maupun intelektual, dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya Bali.

Melalui kesempatan ini Gubernur Bali mengingatkan bahwa warisan peradaban Bali saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari derasnya arus globalisasi, digitalisasi, hingga kecenderungan menjadikan budaya sebagai komoditas semata. “Budaya Bali bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan cara hidup yang menyatukan manusia, alam, dan Tuhan dalam harmoni. Oleh karena itu, menjaga peradaban Bali adalah tanggung jawab bersama seluruh krama Bali,” tegasnya.

Di akhir sambutan, Gubernur Bali mengajak seluruh peserta seminar untuk menjadikan hasil diskusi sebagai langkah konkret yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan maupun kehidupan bermasyarakat. Seminar Nasional ini diharapkan mampu melahirkan gagasan strategis serta rekomendasi yang aplikatif dalam upaya pelestarian warisan peradaban Bali, sekaligus memperkuat peran seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan budaya di tengah dinamika zaman.