×

ANTISIPASI GEJOLAK HARGA JELANG HARI RAYA, TKPID BALI KEMBALI BERAKSI

Minggu, 1 Desember 2013 pukul 18.10 (10 tahun yang lalu) | Oleh Sigapura

Menjelang  Hari Raya Galungan dan Kuningan, pada Jumat, 18 Oktober 2013 Tim Koordinasi Pemantauan Inflasi Daerah (TKPID) Provinsi Bali kembali melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan dalam rangka memantau perkembangan harga dan stok. Di sela-sela kesibukan pada masa akhir tugasnya di Pulau Dewata, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Bali-Nusra, Dwi Pranoto menyempatkan diri untuk ikut terjun secara langsung melihat kondisi di lapangan bersama dengan Ketua  TKPID, I Ketut Wija dan anggota TKPID lainnya. Dalam kesempatan itu, hadir pula Kepala Badan Urusan Logistik (BULOG) Divre Bali selaku anggota high level TKPID Bali.

Kegiatan kunjungan Lapangan atau yang lebih popular dikenal dengan istilah “blusukan” ini  dimulai di Pasar Badung, yang merupakan pasar terbesar di Kota Denpasar. Blusukan kemudian dilanjutkan ke salah satu distributor sembako terbesar di Bali. Dalam kunjungan singkat yang berlangsung kurang lebih 1 jam di Pasar Badung,  Dwi Pranoto berdialog dengan salah seorang pedagang bumbu-bumbuan. “Harga  bawang merah dan putih sekarang turun Pak, pasokannya sedang lancar”  aku salah seorang pedagang. Ketika ditanya pengaruh Hari Raya Keagamaan (Galungan & Kuningan) terhadap perkembangan harga, para pedagang menuturkan bahwa pengaruhnya sangat kecil mengingat kondisi stok melimpah, terutama semenjak pemerintah membuka keran impor bawang merah dan bawang putih. Selain itu, dijelaskan pula bahwa kondisi pasokan lokal juga cukup lancar sebagai dampak tidak ada kendala dalam produksi dan distribusi.

Hasil “blusukan” menggambarkan perkembangan terkini harga komoditas di Bali cukup stabil, dengan kecenderungan deflasi pada komoditas utama bahan pangan. Setelah mengalami tekanan inflasi cukup tinggi pada triwulan III 2013, harga-harga mulai bergerak ke tingkat rata-rata normalnya. Harga daging sapi dan beras cukup stabil, dan diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun. Harga bumbu-bumbuan, telur dan ikan-ikanan menunjukkan kecenderungan deflasi. Hanya buah-buahan dan cabe keriting yang mengalami peningkatan harga. “Melihat kondisi ini, kami optimis  tingkat inflasi Bali pada Oktober 2013 akan terjaga pada level yang rendah” tutur I Ketut Wija.  Disebutkan pula bahwa kenaikan harga pada komoditas cabe dan buah-buahan merupakan faktor seasonal, harga akan kembali normal tidak lama setelah momen perayaan Galungan dan Kuningan berlalu. Terjaganya pasokan sembako dan stok beras hingga lima bulan kedepan menambah optimisme TKPID bahwa inflasi tahun 2013 akan berada dibawah 8% (yoy).

Karakteristik inflasi Bali tidak jauh berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia. Fluktuasi indeks harga umum terutama bersumber pada kelompok bahan makanan, khususnya volatile foods yang sangat dipengaruhi oleh sisi suplai. Dengan demikian faktor distribusi dan cuaca memegang peranan sangat penting. 

Struktur pasar komoditas pangan utama seperti beras, daging ayam, daging sapi, cabai dan minyak goreng masih mengarah pada pasar oligopoli. Daya beli yang kuat dan elastisitas permintaan yang cukup rigid di tengah struktur pasar yang berbentuk oligopoli akan menambah potensi terjadinya “permainan harga” oleh para pedagang. Disamping itu, ekspektasi inflasi juga memegang peranan tak kalah penting dalam pembentukan harga komoditas di Bali.

Permasalahan inflasi yang cukup kompleks tersebut menuntut adanya penanganan inflasi secara komprehensif dan sistematis (run by design). Oleh karena itu, TKPID Provinsi Bali menetapkan dan menggunakan pendekatan 5 Pilar TKPID sebagai grand strategy dan guidance dalam program pengendalian inflasi. Tidak hanya menitikberatkan pada aspek Produksi dan  Distribusi, 5 Pilar TKPID juga mencakup aspek Kelembagaan, Edukasi dan Sosialisasi. Kegiatan “Blusukan” kali ini merupakan salah satu wujud dari pilar ke-IV dan ke-V (Edukasi dan Sosialisasi). Dengan adanya kegiatan blusukan, diharapkan akan terbangun pemahaman masyarakat mengenai eksistensi TKPID, sebagai pihak yang berkepentingan dalam menjaga dan memantau alur distribusi, ketersediaan stok dan mekanisme perdagangan yang sehat. Dengan demikian, ekspektasi masyarakat akan terjaga sehingga pada tahap selanjutnya hal ini akan menjadi faktor sukses tercapainya inflasi pada level yang rendah dan stabil.