×

Deflasi di Singaraja Lampaui Nasional

Selasa, 10 Februari 2015 pukul 20.54 (9 tahun yang lalu) | Oleh Sigapura

 Kota Singaraja, Buleleng mengalami deflasi sebesar 0,61 persen pada Januari 2015. Angka ini lebih tinggi dari angka nasional pada bulan yang sama, 0,24 persen. "Deflasi itu sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM)," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panusunan Siregar di Denpasar, Senin (2/2).
Ia mengatakan, pemerintah menurunkan harga BBM sebanyak dua kali dalam bulan Januari 2015. Penurunan harga itu ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -4,54 persen dan kelompok bahan makanan -1,05 persen.
Sedangkan kenaikan harga ditunjukkan oleh meningkatnya indeks pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,61 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,46 persen. Demikian pula kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,34 persen dan kelompok sandang 0,31 persen. Panusunan Siregar menambahkan, Kota Singaraja mengalami deflasi 0,61 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 124,71. Tingkat inflasi tahun ke tahun yakni Januari 2015 terhadap Januari 2014 sebesar 8,76 persen. Komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi selama bulan Januari 2015 antara lain wortel, lampu neon, majalah berkala, kangkung, cuci kendaraan, daging ayam ras, tongkol, bawang merah dan sewa rumah. Dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sasaran survei 51 kota di antaranya mengalami deflasi dan 31 kota mengalami inflasi.
Deflasi tertinggi terjadi di Padang sebesar 1,98 persen dan terendah di Bandung dan Madiun masing-masing 0,05 persen. Inflasi tertinggi di Ambon sebesar 2,37 persen dan terendah di Malang 0,04 persen. Jika diurut dari kota yang mengalami deflasi tertinggi maka Kota Singaraja menempati urutan ke-14, ujar Panusunan Siregar. Sementara itu, menurunnya indeks pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan menjadi pemicu terjadinya deflasi di Kota Denpasar sebesar 0,08 persen pada bulan Januari 2015. "Kota Denpasar selama 15 tahun (2000-2015) baru dua kali mengalami inflasi, sebelumnya pada Januari 2009," kata Panusunan Siregar. Ia mengatakan, indeks kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan turun sebesar 4,15 persen dan enam kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi. Keenam kelompok tersebut meliputi perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 2,30 persen, kelompok bahan makanan 0,50 persen, kelompok sandang 0,45 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,14 persen, kelompok kesehatan 0,06 persen serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,05 persen. Panusunan Siregar menjelaskan, indeks harga konsumen (IHK) sebesar 116,35 dan tingkat inflasi tahun ke tahun yakni Januari 2015 terhadap Januari 2014 sebesar 6,61 persen. Komponen inti pada Januari 2015 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen, komponen bergejolak inflasi sebesar 0,08 persen, sedangkan komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,44 persen.
Ia menambahkan, komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bensin, minyak goreng, cabai merah, cabai rawit dan tarif angkutan udara. Sementara yang mengalami peningkatan harga selama bulan Januari 2015 antara lain bahan bakar rumah tangga, kayu balokan, tarif listrik, tarif sewa rumah, upah pembantu rumah tangga, daging ayam ras, telur ayam ras, wortel dan beras.
Dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sasaran survei, 51 kota di antaranya mengalami deflasi dan 31 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Padang sebesar 1,98 persen dan terendah di Bandung dan Madiun masing-masing 0,05 persen. "Inflasi tertinggi di Ambon sebesar 2,37 persen dan terendah di Malang 0,04 persen," ujar Panasunan Siregar. (NusaBali, 3 Februari 2015)